Anak Dituntut Balas Jasa
Sebagai orangtua, tentu kita mengenal yang namanya kata “tulus”, sebuah kata yang sebaiknya betul-betul ada dihati kita, bukan hanya dibibir saja, ingat kan sebuah lagu dengan lirik seperti ini: “kasih ibu kepada beta, tak terkira sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”, yups tulus itu = bagai sang surya menyinari dunia. Lalu benarkah kita sudah tulus adanya? Ataukah dalam hati kita masih ada energi menuntut anak kelak membalas jasa kita?
Saya suka gemes kalau bertemu para orangtua yang masih suka harap kembali ke anaknya, energinya menuntut, biasanya suka bilang “kamu udah disekolahin mahal-mahal, masa nggak pinter-pinter, cuma rangking segini, mama kan malu”, “kamu udah sering dibelikan mainan, tapi nurut saja susahnya minta ampun”, kalimat-kalimat seperti itu meski nampaknya biasa saja, tapi energi dibaliknya adalah menuntut anak membalas apa yang telah kita lakukan padanya. Bahkan saya pernah mendengar yang seperti ini, “kamu sekolah yang pinter, supaya cari kerjaan gampang, dapat duit banyak, nanti bisa buat bantu orangtua”, lalu sering juga saya lihat orangtua minta jatah uang bulanan pada anaknya karena menganggap sudah investasi menyekolahkan anaknya, dan banyak juga yang bukan sekedar minta tapi menuntut bahkan memaksa anaknya balas jasa setelah si anak bekerja.
Potensi Resiko
Energi menuntut supaya anak balas jasa dari orangtua bisa membuat anak terbebani, perasaan terbebani bisa membuat anak punya keyakinan diri yang rendah, sehingga bila ada hal-hal yang dirasa tidak bisa memenuhi ekspetasi orangtua maka ia akan dengan mudah langsung down, “iya aku nggak pinter, iya aku bodoh” dsb, dan bila sudah seperti ini maka sulit bagi anak untuk berprestasi, ia jadi takut melangkah dan ia tidak bisa berkarya dengan merdeka, karena hidup dalam bayang-bayang orangtuanya.
Resiko besar juga terjadi bila orangtua menuntut balas jasa dari anak saat anak kelak sudah bekerja, dorongan bekerja bukan untuk berkarya namun jadi berubah hanya demi uang, karena dibenak anak ia baru bisa disebut berhasil apabila sudah bisa balas jasa dalam bentuk kontribusi uang ke orangtuanya, dan hal ini bisa mendorong anak untuk menghalalkan segala cara demi memenuhi tuntutan orangtuanya, tentu resiko seperti ini adalah resiko besar yang belum tentu sanggup kita tanggung resikonya.
Solusi
Bila kita punya harapan atas anak kita maka sebaiknya bukan dengan cara menuntut, melainkan dengan cara memberi motivasi pada anak, kalau kita menuntut maka anak memaknai bahwa harapan kita adalah untuk kita, namun bila kita memotivasi maka anak bisa memaknai bahwa ini untuk dirinya. Menuntut anak tidak akan memotivasi anak, namun justru membuatnya terbebani. Kita perlu pintar-pintar mengelola energi kita, supaya tidak terjebak pada energi menuntut anak, caranya dengan dirasakan ke diri kita sendiri, tentu kita sendiri tidak nyaman juga bukan dengan orang yang energinya menuntut kita? Coba fokus dengan cara-cara yang positif, sebelum mengatakan hal-hal yang dirasa bisa menuntut anak maka tahan diri sejenak, pikirkan dulu apa yang akan kita ucapkan, kalau dirasa kurang tepat maka ubah susunan kalimatnya menjadi lebih memotivasi anak, misal “kamu udah disekolahin mahal-mahal, masa nggak pinter-pinter, cuma rangking segini” ubahlah menjadi “ayah ibu bangga jadi orangtuamu nak, terima kasih kamu sudah mau jujur, sudah berusaha dan tanggungjawab dalam prosesnya, ayah ibu yakin kedepan kamu bisa lebih baik”.
Hidup kita adalah tanggungjawab kita, bukan tanggungjawab anak, sehingga tidak perlu menuntut anak harus memberi kontribusi terhadap hidup kita, sebagai orangtua fokus saja bagaimana jadi teladan, teman dan konsultan bagi anak, lagipula bila kita melakukan yang terbaik dalam mendidik anak maka anak juga akan otomatis berbakti pada kita, tidak perlu kita tuntut-tuntut lagi. Bila kita tulus ikhlas maka energi kasih sayang kita itu akan mengikat anak secara emosi, sehingga anak tidak mungkin abai pada kita kelak. Prinsip sederhananya adalah semakin anak dituntut maka ia semakin nggak nyaman dan semakin menjauh dari kita, semakin kita memberi saja ke anak maka anak akan nyaman dan semakin mendekat pada kita.
Written by Angga Setyawan
@anakjugamanusia


Comments
Post a Comment